IFR Earnings Scorecard
RAPOR PERUSAHAAN PUBLIK DI INDONESIA
Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatat prestasi. Sepanjang 2010, IHSG melonjak hingga 46,1 persen. Dengan total transaksi Rp 1.200 triliun sepanjang tahun lalu, BEI pun masuk jajaran bursa terbaik ketujuh di dunia. Di kawasan Asia, bursa Indonesia menempati peringkat ketiga setelah bursa Sri Lanka, yang naik 93,4 persen, dan Thailand, 49,2 persen.
Meski begitu, patut disayangkan lonjakan IHSG itu tak sepenuhnya buah dari “kerja keras”. Prestasi itu lebih ditopang oleh kenaikan harga komoditas pangan, yang mendorong pertumbuhan sektor pertanian, serta penurunan suku bunga secara drastis, yang memicu pertumbuhan sangat kencang di sektor finansial. Sedangkan sektor industri, yang menjadi tulang punggung perekonomian, lebih rendah pertumbuhannya. Apalagi sektor infrastruktur, yang diharapkan menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi, malah berkinerja terburuk.
Perkembangan sektor-sektor bisnis utama di Indonesia tersebut terekam dengan jelas dari data kinerja saham dan keuangan perusahaan publik sepanjang 2010. Berdasarkan data-data itu pula, Indonesian Financial Review (IFR) mengupas lebih mendalam kinerja bursa Indonesia, baik dari sisi bursa secara keseluruhan maupun kinerja sektoral dan emiten, sekaligus menentukan perusahaan publik terbaik 2010.
Melalui metode pengukuran berdasarkan sejumlah indikator utama, IFR menampilkan earnings scorecard sebagai rapor bagi perusahaan yang terdaftar di bursa saham Indonesia. Beberapa indikator penting yang dijadikan acuan adalah pendapatan, laba bersih, dan kenaikan harga saham. Kapitalisasi pasar sebagai indikator penggerak pasar modal juga menjadi pertimbangan, termasuk dalam menentukan lima sektor yang dipilih.
Proses pemeringkatan earnings scorecard diawali dari seleksi terhadap 424 perusahaan publik hinga Desember 2010. Dari semua emiten tsb, hanya 89 persen perusahaan yang menyerahkan laporan keuangan. Setelah itu, seleksi dilakukan berdasarkan pertumbuhan kinerjanya. Perusahaan-perusahaan dengan kinerja keuangan tidak wajar dieliminasi. Perusahaan yang baru masuk bursa juga dikeluarkan dari daftar, agar mengurangi bias akibat lonjakan harga saham yang biasanya bersifat temporer. Dari sinilah tinggal tersisa 283 emiten yang akan disaring lebih lanjut.
Yang menarik, dari data-data perusahaan yang dikalkulasi, terungkap bagaimana kondisi bursa sesungguhnya. Mengacu pada kenaikan harga saham per sektor, terlihat bahwa kenaikan harga saham dari semua sektor jauh melebihi pertumbuhan laba perusahaan, kecuali untuk sektor pertanian. Sektor yang harga sahamnya naik tajam adalah konsumer dan perdagangan, properti dan real estate, serta industri yang mencakup aneka industri dan industri dasar. Perlu pula dicatat, kenaikan harga saham sektor pertambangan masih sangat kuat, meskipun tidak didukung oleh pertumbuhan laba memadai. Ini menunjukkan bahwa pengaruh faktor likuiditas atau aliran modal masuk (capital inflow) ke Indonesia masih jauh lebih kencang ketimbang perbaikan dari sudut fundamental.
Jika mengacu pada kinerja keuangan emiten, secara keseluruhan terlihat bahwa sektor agribisnis merupakan sektor dengan pertumbuhan laba paling tinggi, yaitu 49,3 persen. Pertumbuhan penjualan sektor pertanian juga paling kencang dibandingkan dengan sektor-sektor lain. Hal ini dipicu oleh kenaikan pendapatan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 27,2 persen, akibat kenaikan harga komoditas yang sangat tinggi pada tahun lalu.
Sektor finansial merupakan sektor dengan pertumbuhan laba sangat signifikan, 47,1 persen. Pertumbuhan laba ini terutama didorong oleh perbaikan margin bunga bersih dari sektor perbankan. Pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia yang mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga turut memicu perbaikan laba bank. Meskipun pendapatan hanya tumbuh 12,8 persen, penurunan suku bunga turut mendorong penurunan biaya dana perbankan.
Sektor properti dan real estate merupakan sektor yang mencatat perbaikan laba cukup tinggi. Meskipun pertumbuhan penjualan dari sektor ini negatif, perusahaan properti mencatat pertumbuhan laba cukup signifikan. Ini didorong oleh turunnya biaya bunga, sebagai komponen biaya tertinggi, serta perbaikan margin perusahan properti.
Sektor konsumer (konsumsi, industri barang konsumsi, dan perdagangan) juga masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kencang. Pertumbuhan laba sebesar 28,1 persen didorong oleh peningkatan penjualan sebesar 15,2 persen. Selama beberapa tahun terakhir, sektor konsumer masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Adapun sektor industri yang mencakup aneka industri dan industri dasar semestinya menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Namun, kenyataannya, pendapatan di sektor ini hanya tumbuh 18,4 persen, meskipun labanya tumbuh cukup tinggi, 24,1 persen. Ini jelas menunjukkan bahwa gerak sektor industri, yang sesungguhnya menjadi fokus pemerintah, masih berjalan lebih lambat ketimbang sektor finansial. Selain itu, kebijakan di sektor industri tidak dinikmati secara signifikan oleh sektor aneka industri dan industri dasar. Pertumbuhan di sektor ini lebih didorong oleh sektor industri otomotif dan sektor industri farmasi.
Lantas bagaimana dengan sektor pertambangan serta sektor infrastruktur dan telekomunikasi ? Ternyata kedua sektor ini memiliki kinerja buruk selama 2010. Volatilitas harga komoditas produk tambang telah menyebabkan pertumbuhan penjualan sektor pertambangan hanya naik 3,9 persen, sedangkan labanya tumbuh 11,7 persen. Yang paling ironis adalah perkembangan di sektor infrastruktur. Kinerjanya terbilang paling buruk. Padahal pemerintah telah berkali-kali mencanangkan dan menekankan pentingnya sektor infrastruktur. Kegagalan pemerintah dalam mencari terobosan di sektor infrastruktur, lambatnya pembebasan lahan, dan sikap wait and see investor turut berkontribusi terhadap lambatnya pertumbuhan laba sektor ini. Khusus untuk telekomunikasi, yang menjadi bagian dari sektor ini, juga terjadi perlambatan pertumbuhan. Ini disebabkan oleh mulai melandainya jumlah pelanggan seluler karena faktor market maturity.
Terlepas dari plus minus di atas, secara keseluruhan kinerja bursa Indonesia patut disyukuri. Pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan publik cukup menggembirakan. Sebab, faktanya, hampir 80 persen perusahaan publik mencetak kenaikan pendapatan dan sekitar 75 persen membukukan kenaikan laba. Catatan lain, sekitar 39 persen perusahaan publik mempunyai kinerja di atas ekspektasi dan sekitar 31 persen lainnya mempunyai kinerja di bawah ekspektasi. Karena itu, secara keseluruhan dapat dikatakan kinerja keuangan perusahaan publik untuk periode 2010 lebih baik daripada estimasi awal kami. Ini membuktikan bahwa kondisi bisnis di Indonesia cukup nyaman dan kondusif bagi para pemodal. Ini pula yang mendorong kenaikan saham yang cukup tinggi pada 2010.
Tulisan Lin Che Wei, CFA, dikutip dari Tempo Edisi 2 – 8 Mei 2011